Latest Post

Pelantikan DPC AWDI Banyuwangi berlangsung meriah dan sukses

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Senin, 02 September 2013 | 13.20


www.awdionline.com | Banyuwangi, JATIM – Diselenggarakan acara Pelantikan DPC AWDI (Dewan Pengurus Cabang Aosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia) yang dilaksanakan Minggu 25/8/13 di hotel Surya News Jajag Kecamatan Gambiran berlangsung cukup meriah dan sukses. Acara yang dihadiri oleh Muspika setempat para Camat dan beberapa Kepala Dinas Kabupaten Banyuwangi, untuk mengenal lebih jauh tentang arti jurnalistik/wartawan dalam melakukan peliputan untuk mencari bahan berita saat investigasi dan wawancara terhadap warga masyarakat serta pejabat publik.

Untuk itu, maraknya issu miring atas keberadaan wartawan bodrek hingga wartawan yang tidak memiliki media hanya ID Card Cuma sekedar dibuat gantungan saja sengaja dikumpulkan yang melibatkan banyak pihak yang terangkum dalam acara pelantikan DPC yang ada di Banyuwangi ini. “Tujuannya, supaya jangan sampai terjadi lagi atas isu miring seperti yang sering terjadi”. Hal ini disampaikan langsung oleh OK Syahyan Ketua Umum DPP AWDI pusat Jakarta saat memberikan kritik tajam terhadap semua tamu yang hadir khususnya para kuli tinta dari beberapa awak media elektronik, online, mingguan, tabloid dan harian.

Masih kata Ok Syahyan, yang berdarah melayu, menegaskan supaya wartawan jangan sampai liar, artinya betul-betul profisional dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Wartawan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999, “semuanya sudah komplit dan jelas sekali. Sepanjang tidak menyimpang dari koridor Undang-Undang yang sudah di-Undangkan tersebut maka semua itu sudah bukan menjadi wewenang dari kami selaku wadah asosiasi AWDI. Untuk itu wartawan jangan sampai takut tajamkan tinta kalian ! Berkaryalah, tunjukan karyamu sebagai sosial kontrol yang baik dan yang bermartabat dalam mengawal kebenaran serta keadilan. “Papar OK Syahyan.

Hal senada juga disampaikan Budi Wahyudin, pria asal Jakarta selaku Kalisbang AWDI pusat menghimbau terhadap semua para wartawan yang hadiri di acara pelantikan tersebut, “ayo bersatu padu jangan sampai kita terpecah belah dalam mempertahankan republik tercinta ini dari para perusak dan penghancur dari beberapa lini. Oleh karenanya, saya dan AWDI mengajak semua rekan teman seprofesi yang tergabung dari para wartawan, ayo bersama-sama merapatkan barisan untuk berantas kemungkaran dan mengawal kebenaran. “kata Budi.

Lebih jauh Budi berharap, Acara pelantikan DPC AWDI di Banyuwangi ini adalah kali pertama dilakukan, sekaligus sebagai barometer wadahnya para wartawan yang ada di pulau Jawa paling ujung timur ini. Mudah-mudahan untuk daerah lain seperti Jember, Lumajang, Bondowoso, Probolinggo dan lain sebagainya para pelaku kuli tinta cepat segera gergabung di wadah AWDI seperti acara pelantikan seperti sekarang ini.

Acara tersebut mendapatkan acungan jempol dari AKP Ibnu Mas’ud SH, Kapolsek Gambiran yang juga hadir mulai awal atas diselenggarakanya pelantikan sekaligus sangat mendukung apresiasi. “Sebagai seorang wartawan harus betul-betul profisional dalam melaksanakan tugas mulia itu untuk menyampaikan kawalan temuan sebuah persoalan kasus yang dituangkan melalui tulisan dan gambar sebagai kontrol sosial yang seimbang. Jangan sampai terjadi hingga berujung mengadili atau ber-opini, ”tegas Abah Ibnu, kapolsek Gambiran.

Sementara itu, H Rianto, ketua DPC AWDI Banyuwangi yang didampingi panitia penyelenggara dan seluruh anggota saat dikonfirmasi Plat Merah Online, pihaknya sangat senang sekali atas kehadiran tamu undangan dan para pejabat terkait yang langsung terlibat dalam acara pelantikan AWDI yang di laksanakan pada hari ini tepatnya di Hotel Surya News.

”Saya bangga sekali, karena selama ini para wartawan dari berbagai media yang ada di Kabupaten Banyuwangi tujuh puluh lima persennya belum ada wadah dari Dewan Pers. Untuk itu kami tidak bermaksud untuk berdiri sendiri, akan tetapi mengajak kepada semua teman sesama jurnalis mempersatukan diri serta bergotong-royong membangun citra yang baik dengan karya-karaya tulisan setiap mengawal keadilan dan kebenaran, ”Tandas Priya berkumis asal Solo, Jateng ini.

Dengan iringan musik tradisional tari ‘jaran goyang’ dan tari ‘jejer gandrung’ yang ditarikan oleh 6 penari yang pernah mewakili ke luar negeri ini, cukup memukau suasana riang gembira yang diselenggarakan oleh wartawan Banyuwangi. Acara tersebut juga dimeriahkan musik kendang kempul yang sengaja menampilkan artis papan atas, Suliyana dan Richardo Benito asal Belanda yang sangat terkenal melantunkan lagu-lagu kendang kempul.

Pesan penting yang tersirat dalam acara tersebut yakni, bahwa AWDI memiliki tujuan untuk mengajak bersatu, bukan memecah-belah. Siapapun dipersilahkan supaya pengayoman terhadap wartawan, bila ada persoalan yang ada di daerah bisa terkafer dan terlindungi. Terus kibarkan karya-karya tulisanmu wahai wartawan runcingkan tintanmu lapisilah dengan kemartabatan dengan nurani yang penuh semangat dengan ketulusan dalam membela yang lemah untuk kontrol melalui karya tulisan, wartawan wajib dilindungi bukan untuk disiksa serta dianiaya. (Imam)

Jokowi Jadikan Waduk Ria Rio "Lebih" dari Waduk Pluit

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Selasa, 20 Agustus 2013 | 11.06

Penulis : Fabian Januarius Kuwado

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (dua dari kiri) dan Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Budi Karya (tiga dari kiri) 
tengah berdiskusi soal desain Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (19/8/2013). | KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO


JAKARTA, awdionline.com — Program penataan waduk di Jakarta terus digenjot Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Usai Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dimulai, target selanjutnya adalah Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur.

Waduk Ria Rio direncanakan memiliki banyak kelebihan ketimbang Waduk Pluit. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memastikan, waduk yang berada persis di sebelah timur perempatan Cempaka Putih itu mulai ditata pada September 2013 yang akan datang. Jokowi ingin kawasan tak terurus itu menjadi tempat penampungan air, ruang terbuka hijau (RTH), ruang aktivitas publik, sekaligus menjadi ladang bisnis Pemprov DKI.

"Nanti di sini akan jadi taman. Tapi, ada sisi bisnis yang dikerjakan Jakpro. Ada gedung serbagunanya," ujar Jokowi saat berkunjung ke kawasan Waduk Ria Rio pada Senin (19/8/2013) siang.

Tak hanya gedung serbaguna yang akan berdiri di sisi timur, sisi yang saat ini masih berdiri 500 kepala keluarga, di sisi selatan waduk, akan dibangun hotel bintang empat.

Berbeda dengan Waduk Pluit yang tidak mengakomodasi sisi bisnis sama sekali, keberadaan gedung serbaguna dan hotel di Waduk Ria Rio dibangun mengingat lokasi waduk strategis. Selain terletak di perbatasan Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat, kawasan itu sering dilintasi oleh masyarakat pengguna kendaraan.

Meski demikian, Jokowi menegaskan, keberadaan gedung serbaguna dan hotel bukan tujuan utama Pemprov DKI. Namun, target utamanya adalah RTH yang dapat diakses warga dengan gratis, sedangkan gedung serbaguna dan hotel dibangun untuk mencari keuntungan, menyelaraskan fungsi sosial dengan bisnis tanpa mengganggu satu sama lain.

"Jakarta butuh ruang publik dalam rangka membangun konektivitas sosial warga. Ingat, ini bukan ruang bisnis ya," lanjut politisi PDI-Perjuangan itu.

Lebih bagus dari Waduk Pluit

Terletak di Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, waduk 9 hektar yang memiliki kawasan seluas 25 hektar itu tampak tidak terurus. Di barat, selatan, dan utara dipenuhi ilalang dan pohon. Permukaan air waduk pun rata dipenuhi tanaman eceng gondok, nyaris seperti bukan waduk.

Sesuai desain, sisi barat akan dijadikan sentra bisnis. Sisi utara akan dibangun RTH dengan beragam fasilitas, mulai dari taman osmosis, amfiteater, hutan kota, dan taman pasif. Sisi timur akan dibangun gedung serbaguna yang menghadap ke waduk dengan amfiteater di depannya serta akan dibangun taman pasif serta arena olahraga.

"Ini akan jauh lebih bagus dari Waduk Pluit, yakin. Karena ini kan terletak di dalam kota. Tamannya lebih, ada kawasan bisnis. Pasti bagus," ujarnya.

Kawasan Waduk Ria Rio akan dibangun empat instansi. Sisi barat, timur, utara akan dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Sisi selatan akan dikerjakan PT Jakarta Propertindo. Adapun normalisasi waduk akan dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Anggaran penataan menggunakan APBD DKI dengan total senilai Rp 1 triliun.

Lebih mudah merelokasi warga?

Beberapa waktu lalu, Jokowi mengungkapkan optimismenya mampu merelokasi 500 kepala keluarga yang bermukim di sisi timur waduk. "Waduk Pluit yang tujuh ribuan KK saja bisa, apalagi ini yang cuma ratusan. Saya yakin bisa," ujarnya kala itu.

Dalam penataan waduk, Jokowi pun memulainya dari sisi selatan, barat, dan utara terlebih dahulu. Sisi timur yang masih berpenduduk tidak diusik untuk sementara waktu. Entah mengapa Jokowi memilih kebijakan itu, ia enggan menjelaskannya.

"Sisi yang ada masyarakatnya tunggu. Jangan kita bicarakan dulu. Yang penting itu dimulai, dimulai, kalau ndak dimulai-mulai ya gimana," lanjutnya.

Warga di sekitar waduk akan mendapat ruang kerahiman Rp 1 juta. Namun, Jokowi menampik kabar tersebut. Menurutnya, pihaknya belum menyentuh soal kompensasi untuk warga.

Cerita wartawan Antara dilepas tentara Mesir karena Bung Karno

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Senin, 19 Agustus 2013 | 11.14

Reporter : Muhammad Hasits


Setelah sempat ditahan oleh tentara Mesir, Munawar Makyanie akhirnya dilepaskan. Siapa sangka wartawan Antara itu dilepas karena nama besar seorang Bung Karno, presiden pertama Indonesia.

Ceritanya, ketika Munawar selama sekitar tiga jam meliput pagelaran tank tempur di Jalan Salah Salim, jalan utama yang menghubungkan Bandara Internasional dan pusat kota Kairo, pada Jumat (16/8) silam. Ia saat itu hendak salat Jumat di Masjid Al Azhar di Distrik Hussein dan sedianya akan meliput aksi unjuk rasa pendukung presiden terguling Mohamed Moursi di Bundaran Ramses, pusat kota Kairo.

Ketika melintas di Jalan Salah Salim, ada peristiwa menarik untuk diliput, dan Munawar pun mengambil gambar barisan tank tempur tersebut setelah minta izin kepada seorang tentara di sekitanya, dan dipersilakan. Baru beberapa kali menjepret, seorang tentara yang agak senior berteriak dari jauh, "Mamnu tashwir" (dilarang motret)," sambil berlari ke arah Munawar.

Dia juga sempat membentak tentara yang mengizinkan Munawar untuk memotret. Tanpa bertanya, dia langsung dengan paksa menarik tangan Munawar dan dimasukkan ke mobil patroli.

Padahal Munawar sudah berteriak-teriak. "Saya wartawan, saya wartawan," katanya. Tapi tentara berseragam loreng padang pasir itu tidak peduli teriakan tersebut, dan tetap saja menarik tangan wartawan Antara tersebut.

Di dalam mobil patroli militer, sudah ada empat warga asing berkulit putih, sepasang laki-wanita berkulit hitam, dan seorang pria berwajah Arab, terkena razia tentara. Munawar sempat bertanya kepada para warga asing itu, apakah mereka juga wartawan, namun seorang wanita bule yang duduk di sampingnya menjawab bahwa dia dan tiga temannya adalah turis, ditahan atas tuduhan melanggar jam malam (19.00-06.00).

Munawar kemudian bertanya lebih lanjut, mereka dari negara mana saja, seorang tentara pengawal tiba-tiba membentak, "Uskut!" (diam), dan semua mata para warga asing itu memandangnya.

Dengan spontan Munawar berteriak balik ke arah sang pengawal, "Saya wartawan Indonesia. Ini kartu pers saya," sambil memperlihatkan dua kartu pers yang bergantung di leher. Dua kartu pers tersebut, masing-masing adalah dari Press Center Kementerian Penerangan Mesir, dan satunya lagi kartu pers dari Istana Presiden Mesir.

Menanggapi teriakan Munawar, si tentara pengawal yang duduk di kursi mobil paling belakang dengan berpegang senjata siap tembak itu tidak mau tahu, dan tanpa bicara dia hanya memelototkan matanya. Sesaat kemudian, ia mengambil telepon genggam dari saku rompi untuk menghubungi Atase Pertahanan (Athan) KBRI Kairo.

Namun, di daftar telepon genggam ada dua nama Athan, Kolonel R. Teguh Isgunanto, dan Kolonel Ipung Purwadi. Untuk konfirmasi yang mana Athan aktif, Munawar segera menelepon Staf Athan, Mukhlis Kaspul Anwar. Saat itu dijawab bahwa Ipung adalah Athan baru, pengganti Athan Teguh yang sudah kembali ke Indonesia.

"Saya wartawan Antara, Munawar Makyanie, ditahan tentara di Jalan Salah Salim," katanya kepada Athan Ipung.

Dari seberang, terdengar sayup-sayup suara Ipung bertanya-tanya, "Ini siapa, ini siapa?". Sebelum Munawar menjawab pertanyaan Ipung, HP sudah dirampas, begitu pula kamera oleh tentara. "Waduh, celaka duabelas ini, fisik dan nyawa saya bisa hilang tanpa jejak," cerita Munawar.

Munawar menceritakan, saat itu suasana semakin menyeramkan karena menjelang mobil patroli tentara yang mengangkutnya dan warga asing itu hendak bergerak ke arah yang tidak diketahui. Wajahnya ditutup dengan kain hitam. Sekitar satu jam perjalanan, ia diturunkan di suatu tempat, dan secara terpisah di ruang berbeda, kami diinterogasi oleh petugas.

KBRI bergerak cepat ketika petugas secara paksa merampas HP saat menghubungi Athan Ipung. Munawar sempat mencoba melawan dan berteriak-teriak panik ke arah petugas, "Ini saya sedang berbicara dengan Duta Besar Republik Indonesia," ujarnya.

Namun, lagi-lagi tentara itu tak mau tahu, "Mafisy kalam, uskut!" (Tidak boleh ngomong, diam), bentaknya dengan mata melotot.

Ia semakin khawatir lantaran saat berbicara telepon dengan Athan Ipung, nomor HP belum tercatat di HP Athan. Sehingga Ipung tidak tahu siapa Munawar Makyanie.

Untungnya, Ipung bergerak cepat untuk melacak nomor telpon tersebut melalui berbagai pihak. Belakangan, Staf Athan, Iman Hilmanuddin, kepada Munawar menceritakan bahwa ia diketahui setelah Ipung menceritakan kepada dirinya.

Sebelumnya, Iman Hilmanuddin juga sempat bingung tentang siapa milik HP tersebut. Selanjutnya ia berusaha melacak lagi melalui Staf Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial Budaya KBRI Kairo, Amir Syarifuddin. Dari situ diketahui bahwa itu adalah nomor HP wartawan Antara di Kairo.

Setelah mengetahui bahwa itu nomor HP Antara, Iman pun sengaja mengirim pesan singkat berbahasa Arab ke HP Antara atas nama Atase Partahanan, dengan harapan petugas dapat membaca dan memakluminya.

Pesan singkat berbahasa Arab itu isinya, "Apakah ini Munawar Makyanie, apa kabarnya? Saya adalah Atase Pertahanan KBRI Kairo.

Membaca SMS itu, Bung Karno seolah-olah hadir sebelum diinterogasi. Seorang petugas beruban,tampaknya pejabat senior, meminta identitas diri, dan Munawar pun menyerahkan semua dokumen identitas berupa paspor, kartu pers, STNK, SIM Mesir, dan kartu Cairo Sporting Club.

Saat membuka paspor Munawar, petugas tersebut spontan berucap, "Oh dari Indonesia ya, Soekarno, 'anaa uhibbu Soekarno' (saya cinta Soekarno)," sambil senyum takzim dan menunjukkan kedua jempol tangannya, dan dia pun keluar dari ruangan interogasi.

Lalu seorang pria berpakaian sipil berwajah angker mulai menginterogasi Munawar dengan beragam pertanyaan memojokkan. Di ruangan itu cukup sempit, hanya ada dua kursi berhadapan ditengahi sebuah meja kecil, dan sebuah lemari kusam di dekat jendela terbuka berpagar besi.

Di atas lemari dipenuhi sebundel kertas berdebu. Sesekali tampak dua ekor tikus menari-nari berkejaran di sela-sela tumpukan kertas di atas lemari. Di ruang sebelah, kerap terdengar suara bentakan keras oleh petugas berbahasa Arab.

Di tengah interogasi, tiba-tiba datang seorang petugas berbeda lagi, berpakaian rapi dengan senyum ramah, meminta Munawar untuk ke ruang tamu.

"Mohon maaf, ini hanya salah pengertian saja. Bapak Munawar Saman Makyanie boleh kembali ke rumah", kata pria berdasi itu sambil menyerahkan kembali telepon genggam, dan semua dokumen identitas, serta kamera, tapi memory card kamera sudah dicopot.

Munawar pun diantar kembali ke tempat semula ditahan, yaitu Jalan Salah Salim, dalam posisi mata dan wajah kembali ditutup dengan kain hitam. Selama perjalanan pulang dalam mobil patroli tersebut, Munawar dalma pikirannya terlintas anak-istri dan Toyota Corolla -- mobil sedan pribadi kesayangan yang diparkir di sisi Jalan Salah Salim, dengan kunci stang buatan Indonesia.

Ia khawatir lantaran banyak kerangka mobil rusak terbakar berserakan di pinggir jalan di mana-mana akibat bentrokan. Sesampai di Jalan Salah Salim, petugas membuka penutup kain hitam dari wajah dan turun dari mobil patroli. Setelah itu ia lega.

"Alhamdulillah mobil pribadi warna metalik itu masih utuh, menanti dengan anggunnya," katanya

Begitu masuk dalam mobil pribadi, istrinya menelpon dari Indonesia, "Papa, hati mama tidak tenang di rumah sakit, selalu ingat papa di depan pasien," kata istri, Widiawati Kurnia, yang sedang bertugas sebagai dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Sari Asih Sangeang, Tangerang.

Mendengar suara istri, ia langsung terharu. Matanya langsung meneteskan air mata. Ia sempat tidak bisa berkata apa-apa dan langsung mematikan teleponnya.

"Sesaat kemudian setelah panasin mobil sebentar, saya kirim pesan singkat BBM kepada istri, tanpa kata-kata, hanya berupa gambar setir mobil, pertanda sedang berkendara di jalan," katanya.

Ia mengaku, bisa sampai di rumah dengan selamat berkat "kehadiran" Bung Karno. Proklamator Kemerdekaan RI itu memang cukup disegani rakyat Mesir hingga sekarang yang dikenal sebagai sejawat paling akrab Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, pahlawan legendaris Arab.

[has]

Masalah Penegakan Hukum di Indonesia Saat Ini

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Rabu, 14 Agustus 2013 | 12.16

AWDISULUT.COM - Hukum di Indonesia yang bisa kita lihat saat ini merupakan hukum yang carut marut, mengapa? Karena dengan adanya pemberitaan mengenai tindak pidana di televisi, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hukum di Indonesia carut marut.

Banyak sekali kejadian yang menggambarkannya, mulai dari tindak pidana yang diberikan kepada maling sandal hingga maling uang rakyat (koruptor). Sebenarnya permasalahan hukum di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya yaitu sistem peradilannya, perangkat hukumnya, inkonsistensi penegakan hukum, intervensi kekuasaan, maupun perlindungan hukum . 

         Hanok Novie Ngangi Ketua DPW AWDI Sulut

Diantara banyaknya permasalahan tersebut, satu hal yang sering dilihat dan dirasakan oleh masyarakat awam adalah adanya inkonsistensi penegakan hukum oleh aparat. Inkonsistensi penegakan hukum ini kadang melibatkan masyarakat itu sendiri, keluarga, maupun lingkungan terdekatnya yang lain (tetangga, teman, dan sebagainya).

Namun inkonsistensi penegakan hukum ini sering pula kita temui dalam media elektronik maupun cetak, yang menyangkut tokoh-tokoh masyarakat (pejabat, orang kaya, dan sebagainya).

Kita dapat mengambil beberapa contoh tentang salahnya penegakan hukum di Indonesia Saat seseorang mencuri sandal misalnya, seperti yang pernah diberitakan belum lama ini, ia dihukum dan didenda hanya karena mencuri sandal seorang briptu yang harganya bisa dibilang murah, sedangkan ada koruptor yang mengambil puluhan milyar uang rakyat hanya di hukum ringan. Bahkan ada koruptor di Indonesia dengan leluasa merajalela, menikmati tanpa dosa, karena mereka memandang rendah hukum yang ada di Indonesia.

Karena kenyataannya memang lebih banyak benarnya, kita ambil contoh Arthalyta Suryani, dia menempati rutan dengan sarana eksklusif, bisa dikatakan eksklusif, sampai-sampai ada ruang untuk berkaraoke, ini juga bisa dijadikan sebagai pembelian hukum di Indonesia.

Hukum di Negara kita ini dapat diselewengkan atau disuap dengan mudahnya, dengan inkonsistensi hukum di Indonesia, seperti pemberian hukuman kepada para pejabat Negara yang menyalahi aturan hukum, misalnya saat terkena tilang polisi lalu lintas, ada beberapa oknum polisi yang mau bahkan terkadang minta disuap agar kasus ini tidak diperpanjang, polisinya pun mendapatkan keuntungan materi dengan cepat namun salah tempat.

Ini merupakan contoh-contoh dalam lingkungan terdekat kita. Masih banyak kasus-kasus yang dapat dijadikan contoh dari penyelewengan hukum di Indonesia.

Oleh : Hanok Novie Ngangi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Sulawesi Utara

SAAT LIBURAN LEBARAN “ AIR TERJUN SEDUDO” KAB. NGANJUK DI MINATI MASYARAKAT LOKAL DAN PENGUNJUNG DARI JAKARTA

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Jumat, 09 Agustus 2013 | 22.07

Awdi Online, Nganjuk – (9/8/2013) Air terjun sedudo merupakan salah satu dari 10 air terjun tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 105 M. Air terjun sedudo berasal dari proses alam denga n sumber mata air dari gunung Wilis (2.552 M). Denga kecepatan luncur 41-15 (debet/liter) 10-15 (kecepatan liter/detik). Terletak di desa Ngeliman, Kecamatan Sawahan, Kab. Nganjuk Jawa Timur, berada di ketinggian 1.438 M dari permukaan laut, kurang lebih 30 KM dari kota Nganjuk.

Pemandangan air terjun yang begitu elok, ditambah lagi pemandangan panorama pegunungan Wilis yang masih alami dan hawanya yang sangat sejuk membuat kawasan sedudo ini sangat menarik pengunjung.

Para pengunjung yang datang kebanyakan adalah masyarakat Kab.Nganjuk yang sedang menikmati waktu liburan lebaran, karena tempatnya yang sejuk juga murah. Dari pantauan awdi online sekitar 500 pengunjuk sudah memadati area sedudo. Terlihat dari antrian di loket pintu masuk juga lokasi air terjun itu.

“ kami selalu memantau cuaca di sini kalau hujan lebat langsung kami tutup, untuk mengantisipasi bilamana terjadi air bah yang datang, juga antisipasi longsor yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Makanya kita siagakan petugas dari kepolisian, TNI, dan petugas medis yang selalu sigap “ kata pak edi petugas yang sedang memonitor di lokasi air terjun dengan HT (handy Talky).


Sedangkan Lies Nurhayati, SH. M. Si kepala dinas kebudayaan dan parawisata kabupaten Nganjuk jawa timur saat berkomentar soal air terjun sedudo beliau mengatakan “ Alhamdulillah, daya tarik wisata air terjun sedudo Kab. Nganjuk yang posisinya sangat strategis didukung oleh potensi sumber daya alam, sejarah dan wisata alamnya” katanya kepada awak media.

Kawasan air terjun sedudo juga setiap tahunnya selalu mengadakan upacara siraman sedudo/mandi bersama setiap bulan suro yang di ikuti 6 penari yang masih perawan dan berambut panjang sebagai syarat proses siraman sedudo yang di percaya bisa membawa berkah, keselamatan, pangkat dan awet muda.

Reporter : Faisal 6444
 
Support : Creating Website | Johny Template | Edited By : Abib Visual
Copyright © 2013. Awdi Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger