Latest Post

Kasudin Olah raga dan pemuda buka kejuaran dan pestival Seni Budaya Pencak Silat tingkat SD Di GOR Cendrawasih

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Senin, 25 November 2013 | 10.33

KASUDIN Pemuda Dan Olahraga Jakbar, H Dahlan serta Ketua Wasit dan Kepala Seksi Jayani,
dan Wartawati Detak Jakarta.

Jakarta, Awdionline.com

Kepala Suku dinas Olah Raga dan pemuda Jakata Barat H. Dahlan Jumat membuka kejuaraan dan vestifal Seni budaya Pencak silat Singkat SD dan Remaja sejakarta Barat, dalam acara pembukaan tersebut, mengatakan bahwa kkegiatan ini adalah kegiatan rutinitas setiap tahun dan jnuga sudah program kerja  IPSI Jakarta Barat.

Manfaat kegitan ini dilaksanakan selain untuk mencari bibit bibit calon atlit, juga untuk menjalin hubungan silahturahmi antar perguruan silat yang tergabung di IPSI Jakarta Barat.
Maka dari itu dalam kejuaraan ini agar junjung tinggi sporti pitas antar atlet jangan ada kecurangn dalam kejuaraan ini, jangan mentang mentang nanti yang bertanding kebetulan perguruan dan murid dari panitia pelaksana aturan kalah malah menjadi menang.

Menurut ketua panitia pelaksana Solehan dan juga Ade panitia mengatakan bahwa Kelas yang di pertandingkan adalah kelas A, mulai dari berat badan 24 sampai kelas D berat badan 34, sedangkan untuk vestifal seni budaya penca Silat katagori yang di pertandingkan adlah:, Seni Wiragana (tunggal bebas putra dan putrid), seni wiraloka (beregu bebas terdiri 5 orang), dalam penampilan ini di haruskan memakai music dan gendang serta asesoris silat, untuk waktu penampilan tunggal selama 3 menit dan beregu selama 3 menit.

Pelaksanaan kejuaraan dan pestival seni budaya pencak Silat ini di adakan dua hari memperebutkan Piala dan medali dari Kasudin olah Ragadan pemuda Jakarta Barat serta panitia pelaksana,
Dengan diadakan kejuaraan dan pestival seni budaya pencaj silat ini marilah kita junjung tinggi sportipits dan pererat silahturahmi antar perguruan. (yuni)

Tasyakuran & Pengesahan Calon Warga Baru SH Terate, Cabang Banyuwangi Sebanyak 272 Siswa

                        Foto: Warga Tingkat Dua dan Ratusan Warga Setia Hati Terate banyuwangi

Banyuwangi Awdionline.com- Kegiatan Mulai hari jumaat tanggal (22/11)di Awali dengan Tes Ayam yang ada di Pendepokan Cabang SH Terate yang ada di Dusun Terbelang Desa Cluring Kecamatan Cluring kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.

Tes Ayam milik calon warga Baru SH Terate Tingkat Satu itu,  berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang di lakukan oleh Warga SH Terate Tingakat Dua yang ada di Cabang Kabupaten Banyuwangi.

Di langsungkan Pada tanggal (23/11/)sabtu Malam Minggu mengadakan Tasyakuran & Pengesahan Calon Warga Baru SH Terate Tingkat Satu Cabang Banyuwangi itu  yang ada di gedung Pertanian Cluring itu,  mendadak berubah jadi senyap. Hiruk pikuk Ribuan warga berpakaian sakral, serta merta terhenti. Sungguh, satu pun tidak ada pengunjung yang berpakaian lain. Semuanya serba sakral. Pakaian hitam-hitam, bersabuk mori.

Sesaat kemudian dari pengeras suara yang dipasang, terdengar pengumuman dari pembawa acara, bahwa Tasyakuran & Pengesahan Calon Warga Baru SH Terate Tingkat Satu segera dimulai.”Keheningan, menyeruak ke permukaan. Ratusan Calon warga baru yang hendak disyahkan duduk bersila, mengitari gunungan uba rampe. Sementara, beberapa Dewan Pengecer duduk di depan.  Kemudian disampingnya  panitia pengesahan serta Ratusan warga senior Persaudaraan Setia Hati Terate Se Kabupaten Banyuwangi.

Keheningan bertambah ritmis ketika Ketua Cabang SH Terate Kabupaten Banyuwangi Mas Darko, menuju mimbar untuk menyampaikan petuah, disusul doa dan wasiat kepada Calon Warga Baru. Suasana, khusuk benar-benar terasa dalam selamatan ini.”Ritual pengesahan Calon warga baru Tingkat Satu, dimulai dari selamatan hingga keceran. Jadi sepanajng acara, semalam suntuk, harus sacral. Harus khusuk,” ujar Ketua Cabang SH Terate Kabupaten Banyuwangi,

Berbeda dengan acara lain, misalnya syukuran warga baru, lanjut Mas Darko, meyampekan para  tamu undangan boleh berpakaian batik atau pakaian apa saja, yang penting sopan. Tapi dalam ritual pengesahan warga baru, semua yang hadir harus perpakaian sacral. Tidak boleh tidak.
Sebagai acuan cabang SH Terate Banyuwangi,  tampaknya tidak main-main dalam menerapkan aturan ini. Terbukti, ritual pengesahan Calon warga baru SH Terate di Gedung Pertanian, Suasana sakral dan khusuk mewarnai sepanjang acara pengesahan.

Jadwal acara pengesahan itu sendiri di format cukup matang. Di mulai pukul 21.00 dengan mata acara selamatan, pembacaan doa serta wasiat dari Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun. Tenggang waktu yang dibutuhkan untuk upacara selamatan ini tak lebih dari satu jam.

Berikutnya, waktu digunakan untuk istirahat sambari makan bersama.Sementara, calon warga baru, diminta tetap berada di dalam ruangan. Kecuali yang ingin buang air. Itu pun waktunya dibatasi.
Rampung selamatan, panitia menyiapkan perlengkapan prosesi keceran. Sementara, sambil menunggu waktu keceran yang dimulai tepat pukul 00.00, Puluhan jajaran Warga Tingkat Dua,  Kabupaten Laian Banyuwangi, memberikan pengarahan dan penajaman ke-SH-an pada calon warga baru Tingkat Satu,  Intinya, menjelaskan makna prosesi pengesahan.

Dengan penjelasan ini, calon warga baru yang bakal disyahkan, betul-betul memperoleh pemahaman tentang prosesi yang akan dilakukan.”Di situ saya jelaskan secara rinci arti pengesahan. Jadi calon warga baru benar-benar siap menghadapi prosesi keceran.
       
                       Foto: Ratusan Calon Warga Baru Setia Hati Terate di Sahkan
Keceran  tepat pukul 00.00, semua calon warga baru yang bakal disyahkan masuk ke ruang pengesahan. Prosesi keceran pun dimulai. Suasana khusuk makin terasa. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke ruang ini. Kecuali calon warga baru, pendamping dan dewan pengecer. Jajaran Warga Tingkat Dua  pegang kendali sepanjang prosesi keceran.

Khusus pendamping calon warga baru, mereka hanya diperbolehkan mengantar siswanya ke dalam ruang dan mengabsen. Setelahnya, diminta keluar dari ruang prosesi keceran. Dus, sepanjang prosesi keceran berlangsung, hanya berada di ruangan hanya dewan pengecer dan calon warga baru.

sempat merinding mengamati prosesi keceran yang digelar di Gedung Pertanian yang ada di Desa Cluring. Sebab, begitu prosesi keceran dimulai, suasana hening benar-benar tercipta. Waktu seakan berhenti. Di ruang prosesi keceran nyaris tak terdengar suara. Kecuali langkah jajaran Warga Tingkat Dua  helaan nafas panjang dari calon warga baru yang tengah menjalani prosesi keceran.
Dalam temaran berkas sinar lilin, lantunan doa munajat pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, seakan tampak naik membubung ke angkasa, di sela helaan nafas panjang Dewan Pengecer dan calon warga baru.

Prosesi keceran rampung sekitar pukul 03.00. Wajah-wajah haru, serta merta menyeruak ke permukaan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian jurus kunci dank ode. Ucapan selamat merupakan pamungkas acara yang sangat mengharukan. Tangis haru menyeruak saat warga baru bersalaman dengan pelatih dan warga yang hadir di acara sacral itu. Selamat, semoga barokah dan bermanfaat kedapa masyarakat dan juga berguna Bagi Nusa dan Bangsa dan juga agama, “ ungkapnya. ( Din Awdi)

Afuk Di Tangkap DI Depan Rumahnya, Bawa Sabu-Sabu Dalam Roti

Banyuwangi, AwdiOnline.com – Polres Banyuwangi dapat tangkapan kakap kasus narkoba. Kali ini polres meringkus Slamet Suk majaya alias Afuk, 47. Pria yang satu ini bukan pemain baru di Banyuwangi. Afuk sudah kerap berurusan dengan polisi dalam kasus narkoba. Itu dibuktikan dengan keluarnya Afuk dari Lapas Narkoba Madiun belum lama ini. Slamet disergap anggota Satnarkoba Polres Banyuwangi pukul 07.00 di depan rumahnya di Jalan Piere Tendean 18, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi, Rabu (20/11) kemarin.
Ini setelah polisi menerima informasi bahwa pagi itu Afuk menerima paket sabu-sabu dari seorang kurir. Benar, setelah diringkus, di tangan Afuk ditemukan sabu-sabu dengan berat kotor 10,91 gram. Setelah ditimbang, berat bersih sabu tersebut 10,66 gram. Untuk mengecoh polisi, sabusabu itu dimasukkan da lam paket roti yang sudah menjamur. “Barang bukti 10,91 gram itu tergolong besar untuk tangkapan di Banyuwangi,” kata Kapolres Banyuwangi AKBP Yusuf saat ekspose kasus narkoba di hadapan wartawan kemarin.
Selain mengamankan sabu, dari rumah Afuk juga disita tim bangan elektrik, botol berisi alkohol, hand phone (HP) merek Nokia, lakban, sedotan, dan empat bungkus roti. “Tersangka diduga kuat sebagai pengedar. Itu dibuktikan dengan banyaknya barang bukti yang kita sita,” imbuh Yusuf. Demi kepentingan pe nyi dikan, tersangka Afuk kini diamankan di ruang tahanan Mapolres Banyuwangi. “Ter sangka baru keluar dari penjara Madiun dalam kasus yang sama,” ungkap perwira polisi dengan dua melati di pundak itu.
Afuk yang diduga sebagai pengedar itu sudah sebulan di intai anggotanya. Cukup lama pi haknya mendapat laporan dari warga bahwa tersangka melakukan bisnis haram, yakni me ngedarkan sabu-sabu. “Hampir sebulan kita mengintai tersangka,” tandasnya. Setelah tersangka dinyatakan positif mendapat kiriman sabu, sejumlah anggota satnarkoba langsung menyanggong di rumahnya. Sekitar pukul 07.00, Afuk ditangkap di depan rumahnya saat mengambil paket roti berisi sabu-sabu.
Paket yang di kirim melalui Panila Transportasi, Banyuwangi, itu berisi empat roti yang sudah menjamur. Di paket itu, pengirim tertulis Lala Bakery, Jalan Pacuan Kuda 69, Surabaya. Paket itu di kirim kepada Ny. Suprapto dengan alamat Jalan KH. Wahid Hasyim (Amarale Brownis), Banyuwangi.
Dalam keterangannya, Afuk mengaku mendapatkan barang itu dari Ambon, dari salah satu temannya yang kini masih menjadi narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkoba Madiun. “Sabu dari Ambon.
Sekarang orang nya masih di Lapas Madiun,” aku Afuk. Untuk mengirim paket roti berisi sabu itu, Ambon menyuruh seorang kurir. Sayang, identitas kurir itu tidak di ketahui. “Saya beli sabu-sabu seharga Rp 13 juta. Uang saya transfer melalui bank,” ungkap Afuk. Selain ekspose hasil penangkapan sabu, kapolres juga menunjukkan hasil tangkapan obat-obatan daftar G jenis dextro. Tiga tersangka dan barang bukti 1.069 butir dextro dipamerkan kepada para wartawan di Mapolres Banyuwangi kemarin.
“Tiga ter sangka ini jaringan,” sebut Kapolres Yusuf.  Ketiga tersangka yang masih menjalani pemeriksaan itu adalah Firman Rosadi, 31, warga Jalan Agus Salim, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi; Hadi Pratama, 30, dan Didik Sugiharto, 24, keduanya tinggal di Jalan Trunojoyo, Banyuwangi. “Dextro kita sita dari tangan Firman,” jelasnya. Dalam jaringan dextro itu, Firman mendapatkan barang dari seorang sales seharga Rp 1 juta per 1.000 butir dextro.
Selanjutnya, pil itu dijual seharga Rp 190 ribu setiap 100 butir. “Saya dapatkan dextro dari sales,” aku Firman. Untuk mengedarkan dextro, Firman menjual kepada Hadi yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Di antara dextro itu, oleh Hadi diberikan Didik untuk diedarkan. “Ketiga tersangka ini kita tangkap di tempat terpisah. Yang pertama ditangkap adalah Firman,” tandas Ka polres Yusuf. (Tiem Awdi)

Sewu Gandrung Menari Di Pantai BOOM Banyuwangi

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Sabtu, 23 November 2013 | 12.12

Banyuwangi, Awdionline.com – Tak salah bila Banyuwangi punya julukan sebagai Kota Gandrung. Lebih dari seribu penari gandrung tampil secara kolosal di atas hamparan pasir Pantai Boom, Banyuwangi, sore ini ( 23/11). Bukan hanya puluhan ribu warga Bumi Blambangan yang menyaksikan Parade Gandrung Sewu di pantai tersebut sore itu.

Tidak sedikit pula warga luar Banyuwangi, bahkan wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke daerah yang memiliki tagline Sunrise of Java sore itu. Mereka berpesta bersama menikmati beragam sajian spektakuler yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-241.

Sementara itu, puluhan ribu penonton tampak menyemut di pantai dengan hamparan pasir yang landai nan menawan itu. Sejak siang, gelombang kedatangan warga terus mengalir menuju kawasan Pantai Boom Menjelang sore, arus kedatangan warga semakin membesar. Saking padatnya kendaraan yang memasuki kawasan Pantai Boom, mereka yang ingin memasuki kawasan tersebut harus ekstra sabar untuk menjangkau lokasi Parade Gandrung Sewu digelar.

Kerja keras penonton untuk mencapai lokasi acara langsung terbayar tuntas saat perhelatan akbar yang kali pertama digelar di Banyuwangi itu berlangsung. Decak kagum penonton seketika itu pecah tatkala parade umbul-umbul memasuki arena pertunjukan. Puluhan pemuda pembawa umbul-umbul secara serempak ke tengah hamparan pasir yang disulap menjadi “lapangan” pertunjukan. Sejurus kemudian, para pembawa umbul-umbul itu berlari ke sisi utara lapangan. Rupanya, mereka menjemput gandrung lanang atau yang lazim disebut gandrung marsan dan penari seblang yang ditandu sekelompok pria dewasa.

Gandrung marsan dan penari seblang itu langsung maju ke tengah arena pertunjukan di iringi para pembawa umbul-umbul. Selanjutnya, gandrung lanang dan penari seblang tersebut ber gerak menuju stage di belakang arena pertunjukan. Tiba-tiba, puluhan pria berseragam militer khas penjajah Belanda masuk ke tengah arena. Rupanya, adegan itu menggambarkan awal masuknya Belanda ke Bumi Blambangan tahun 1767. Serdadu penjajah itu masuk tlatah Blambangan melalui Pantai Blimbingsari.

Setelah berhasil menancapkan kekuasaan, para penjajah itu sewenang-wenang. Digambarkan, mereka dengan se enaknya menyiksa warga Pribumi. Tidak hanya kaum laki-laki, para perempuan dan anak-anak pun tak luput menjadi korban penyiksaan mereka. Nah, saat adegan yang sangat menyayat hati itu berlangsung, tidak sedikit penonton yang tak mampu menahan air mata. Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya sekitar tahun 1800-an, pengaruh penjajah Belanda itu menyebabkan tari seblang yang dikeramatkan warga ber-metamorfosis menjadi tari gandrung.

Mereka terdiri atas kalangan pelajar mulai tingkat SD sampai SMA/sederajat asal seantero Banyuwangi dan para penari gandrung dewasa. Parade Gandrung Sewu ini digelar dengan maksud dan tujuan sebagai wahana aktualisasi seni untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Banyuwangi,” ujar ketua panitia,  Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas dalam sambutannya menyatakan rasa haru dan bangga atas semangat luar biasa yang ditunjukkan para penari gandrung. Mereka yang berasal dari desa-desa yang jaraknya puluhan kilometer (km) dari Kota Banyuwangi itu rela bermalam di sekolah atau di rumah kerabatnya yang dekat dengan pusat kota demi memberikan sajian terbaik kepada para penonton.

Menurut Bupati Anas, Parade Gandrung Sewu tersebut merupakan rangkaian Banyuwangi Festival yang bertujuan memberikan suguhan bukan hanya ke pada warga Banyuwangi, tapi juga suguhan untuk warga luar Banyuwangi bahkan turis mancanegara. “Kita tunjukkan Banyuwangi adalah kabupaten yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tapi juga kaya budaya,” kata Anas disambut riuh tepuk tangan penonton. (Din/heru awdi)


Pembuatan Roti” Shafa”Di Tempat Kumuh Kebondalem

                                                     Foto: makanan Roti  milik Iawan

Banyuwangi, Awdionline.com - Rumor yang santer dari  kalangan masyarakat Desa Kebondalem,  Pembuatan Pabrik Roti sangat menyayangkan kepada pengelola Roti tersebut, karena tempat yang di gunakan usaha sangat kumuh dan sangat mengganggu kesehatan.

Pembuatan Makanan Roti milik Iwan itu dengan omset yang tidak sedikit hasilnya oleh pelaku usaha diduga ilegal dan di bantu dengan anak buahnya ada enam orang, perharinya saja mampu memproduksi ribuan bungkus roti siap di pasarkan di sekolah-sekolah dan warung-warung langganannya yang ada di Dusun Tanjungrejo Desa Kebondalem Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi.

Antara lain yang perlu diperhatikan adalah, ijin Dinkes dalam kemasan roti tersebut, artinya jika di konsumsi dapat di pertanggungjawabkan  tingkat higienisnya dan aman bagi para konsumen dari masyarakat.

Lain halnya dengan roti yang bermerek “ Shafa “yang di kelola oleh Iwan di Desa Kebondalem Kecamatan Bangorejo sudah tidak mengantongi ijin resmi dari Dinas Kesehatan setempat, lagi pula tempat usahanya sangat tidak layak alias kumuh sehingga sangat memudahkan bahan yang akan di jadikan makanan terjangkit penyakit.

Dan Lagi pula kertas Sablon yang bertulisan Merek Roti “Shafa” menempel pada makanan yang di produksi oleh Iwan dengan cara Ilegal.

Menurut Masyarakat yang enggan di sebut namanya mengatakan bahwa, Ada beberapa hal yang patut di perhatikan oleh para konsumen khususnya industri yang bergerak di makanan khususnya Roti yang ada di Dusun Tanjungrejo tempat sangat kumuh sekali yang ada  di wilayah Desa Kebondalem kecamatan Bangorejo.

Dengan adanya rumor yang santer dari masyarakat  Selaku pemilik Usaha Makanan Roti, kalau usahanya yang illegal dan tidak mengantongi ijin secuilpun dari Dinas Kesehatan Banyuwangi. Paparnya Agus.

Iwan Selaku Pemilik Usaha Makanan Roti mengatakan bahwa usaha saya di dukung oleh Pemerintahan Desa yaitu kepala Desa Kebondakem, dan di tambahkan pula oleh iwan jika ada masalah yang berkaitan dengan usahanya dirinya siap akan menghadapi dengan segala konsekuensinya,”Ungkapnya iwan.

Ketika di Konfirmasi lewat ponsel (23/11/2013) Kepala Desa Kebondalem kecamatan Bangorejo Iksan mengatakan saya memang mendukung kalau ada masyarakat yang berusaha, namun saya tidak tahu kalau pembuatan Roti merek Shafa  itu tidak ada ijin dari Dinas kesehatan Kabupaten Banyuwangi,” rabanya. (Tim Awdi)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Edited By : Abib Visual
Copyright © 2013. Awdi Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger