Latest Post

BUPATI TRENGGALEK DR Ir MULYADI WR MMT, APABILA TIDAK PUNYA RASA BANGGA TERHADAP PRODUK UNGGULAN DAERAH TRENGGALEK maka PERLU DIPERTANYAKAN KTP - dan RASA NASIONALISMENYA

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Selasa, 12 November 2013 | 13.52

Trenggalek, Awdionline.com - Suara mesin diesel memekakkan telinga dan lempengan besi cetakan genteng saling beradu, menumbuk tanah lempung menjadi genteng cirikhas Nglayur, menciptakan suara yang tak asing ditelinga kita, bila melintas diperkampungan Dukuh Nglayur DesaSukorejo KecamatanGandusari KabupatenTrenggalek. Sebuah kebanggaan warga yang sudah berabad abad lamanya.

Pak Sujilan dengan semangat melestarikan sejarah perkampungan penghasil genteng berkualitas, terlihat menata cetakan genteng yang masih basah saat wartawan Panji Nasional memasuki halaman rumahnya, di Dukuh AwarAwar DesaSukorejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek kamis ( 31 / 10 ). Laki-laki perkasa 45 tahun itu di sela kesibukannya menata genteng, mengatakan bahwa proses pembuatan genteng sekarang sangatlah mudah, setelah ada inovasi terbaru mesin cetak genting tenaga angin ( hidrolis ).

Sujilan mengatakan bahwa hampir tujuh tahun dia menggeluti usaha pembuatan genteng, namun sekarang perkembangannya masih biasa biasa saja. Belum menunjukkkan perkembangan yang signifikan. Kalau terkait kualitas, kita sudah tingkatkan dari waktu kewaktu mengikuti perkembangan zaman dan alhamdullillah sekarang genteng produksi Nglayur tidak perlu diragukan lagi. Bahkan genteng nglayur sekarang sangat terkenal diluarjawa utamanya Kalimantan . kita tiap bulan rutin diminta untuk mengirim keluar pulau ,imbuhnya.

Industri genteng dari daerah Trenggalek ialah salah satu industri yang cukup terkenal. Genteng dari daerah Trenggalek terkenal bermutu baik, tidak gampang rusak dan harganya pun juga lebih murah dari genteng daerah lain.

Pendopo kabupaten trenggalek dan rumah tangga pendopo pada tahun anggaran 2011 mengalami rehabilitasi. Rehabilitasi yang merupakan salah satu program dari kegiatan Dinas Perumahan Permukiman dan Kebersihan Kabupaten Trenggalek menelan dana 1,379 milyar.  Namun yang sangat disayangkan, Genting yang dipakai dalam rehab pendopo dan rumah tangga pendopo menggunakan genteng dari Jatiwangi Cirebon Jawa Barat.

 Pembangunan dirancang untuk menuju suatu perubahan bagi peradaban masyarakat, kebanggaan masyarakat. Perubahan yang membawa masyarakat menuju kemakmuran baik kemakmuran fisik maupun mental.

Untuk membawa perubahan tersebut diatas maka diperlukan pemimpin yang berjiwa interprenuer dan berdedikasi serta punya sifat kenegarawan sangat diidamkan oleh seluruh masyarakat untuk menjadi tauladan bagi para punggawanya.

Pemimpin yang tidak  kerdil, berjiwa saling memiliki, memikirkan potensi daerah dan mempromosikan potensi daerah kepihak luar dengan media yang ada, akan membawa masyarakat dan punggawanya menuju kearah pembangunan yang tertata dan lambat laun akan meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Trenggalek sebagai kota kabupaten dipropinsi jawatimur merupakan aset bangsa indonesia yang tidak ternilai bila dibandingkan dengan kabupaten yang lain yang ada direpublik indonesia. Beragam hasil dari sumberdaya alam sangat melimpah. Tanahnya sangat subur sangat cocok untuk tanaman yang ada, banyak industri UMKM yang bertebaran dengan aneka produk yang berkualitas terutama genteng, kata Sujilan menambahi.

Namun  yang terjadi saat ini bila dikaji dari sampai sejauhmana proses pembangunan itu bisa tepat sasaran. Trenggalek saat ini tidak lebih dari ‘sarang para mafia yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri secara sesaat agar kepuasannya terpenuhi tanpa memperhitungkan bahwa pembangunan itu ada supaya nantinya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga bisa meningkat pula kesadaran masyarakat dalam ikut meningkatkan PAD serta melestarikan fakta sejarah industry yang ada.

Berbagai macam program kini hanya dipermukaan saja. Dinas Koperasi, pertambangan dan energi kabupaten trenggalek sebagai bagian SKPD terutama bidang industri perdagangan yang bertugas untuk bertanggung jawab terhadap produk baik kualitas maupun desainnya dan teknologi untuk meningkatkan kualitas produk untuk meningkatkan perekonomian masyarakat saat ini bekerja hanya untuk menghabiskan anggaran saja tanpa punya agenda yang jelas dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Berbagai bantuan dari liding sektor Bidang Industri dan Perdagangan kabupaten trenggalek saat ini yang tersalurkan kemasyarakat banyak yang tidak tepat sasaran. Bantuan tidak dirancang bagi peningkatan usaha namun menciptakan pengusaha baru yang belum tentu punya latar belakang usaha dari bantuan yang dimaksud sehingga yang terjadi saat ini adalah pemerintah bekerja hanya memberi bantuan alat dan pelatihan bagi sekelompok masyarakat yang punya kedekatan dengan pejabat tanpa memperhitungkan latar belakang dari penerima bantuan dan standart pelaku usaha dan indikasi permasalahan yang terjadi saat ini adalah banyak bantuan hibah yang tidak terdeteksi, banyak bantuan hibah propinsi yang terbengkelai bahkan ada kelompok yang menerima bantuan hibah alat yang sampai sekarang alat tersebut belum dijalankan karena kelompok belum punya dana, banyak pelaku UKM yang mati enggan hidup tak mau karena disaat produk banyak dia kesulitan untuk memasarkan, kata widodo pengurus LSM yang bertempat tinggal dipanggul trenggalek.

Saat ini banyak kebijakan pemerintah utamanya bidang Industri dan perdagangan Trenggalek,  belum mempunyai atau memang tidak mempunyai arah yang jelas dalam membawa sumberdaya UMKM tersebut kearah yang bisa memakmurkan masyarakat. Biarpun tahun 2011 sampai 2013 bapak mulyadi menerima ratusan penghargaan, banyak pelaku usaha utamanya UKM saat ini usahanya belum bisa mengangkat kesejahteraannya. hal ini dapat kita analisa dari banyaknya program yang digagas pemerintah daerah namun banyak juga program yang tidak tepat sasaran dan difungsikan sebagaimana mestinya.

Pemerintahan bupati Dr.Ir.H.Mulyadi yang semestinya sesuai slogan kampaye perubahan menuju terwujudnya masyarakat trenggalek yang sejahtera dan berakhlak, namun yang ada sekarang adalah simbul pemerintahan yang hanya memikirkan perut segelintir orang maupun kelompoknya sehingga timbul menang sendiri dan kebutuhan masyarakat umum yang hakiki kadangkala terabaikan. Semestinya, sebuah program disusun berdasarkan data yang akurat, valid sesuai kondisi terkini tentang kondisi daerah serta koordinasi program antar bidang di semua SKPD sehingga semua program yang direncanakan bisa membuka lapangan kerja yang luas dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga nilai beli masyarakat trenggalek semakin tinggi. Imbuh DL ( 45 th ) warga Nglayur kecamatan Gandusari Trenggalek.

Berbagai macam persolan yang ada dikabupaten trenggalek, kini menjadi bahan renungan para tokoh masyarakat, LSM serta para praktisi yang masih peduli pada tanah trenggalek. Diwarung kopi, ditengah sawah, diparkiran becak bahkan disanggar – sanggar para pelaku seni. Saat ini yang menjadi bahan renungan adalah pemakaian genting dalam rehab pendopo kabupaten dan rumah tangga pendopo yang merupakan ikon kabupaten trenggalek.

Trenggalek yang merupakan sebuah kota kabupaten dijawatimur yang mempunyai ikon sebagai kota produsen genteng berkualitas namun yang membuat kalangan budayawan dan pemerhati budaya mengelus dada dan nelongso adalah penghargaan dan kepedulian Bupati dan pemerintah serta rasa memiliki dan bangga terhadap produk daerah trenggalek yang sudah terkenal sampai diluar jawa timur, tidak ada.

Sebuah pemikiran yang harus segera diluruskan. Bupati sebagai pemegang kebijakan seharusnya bangga terhadap produk daerah dan pendopo sebagai ikon budaya semestinya harus dijadikan simbul untuk mengenalkan produk unggulan daerah dimata kepala daerah lainnya bila berkunjung ketrenggalek bukannya malah bangga dan mempromosikan produk unggulan luar daerah.

Asosiasi pengusaha genteng sekarang memang sudah ada namun peran serta pemerintah daerah Trenggalek dalam mengembangkan industry genteng saya nilai hanya setengah hati. Kata DL (45 th) tokoh masyarakat dan juga anggota pengurus asosiasi pengrajin genteng gandusari. Peran serta pemerintah daerah utamanya Bapak Bupati Mulyadi WR melalui Dinas Koperindagtamben sangat dan sangat diperlukan untuk membantu memasarkan hasil produksi genteng Trenggalek. Saat ini yang dialami warga sukorejo adalah kepiluan yang dalam.

Kesyakralan  pendopo kabupaten trenggalek bila dibaratkan keris kini telah kehilangan yoni atau jati diri kebanggaan warga trenggalek, ucap pemerhati budaya serta budayawan yang bernama RM Nyono yang bertempat tinggal didaerah pakis kecamatan durenan trenggalek.

maka apabila bupati Trenggalek Mulyadi WR tidak punya rasa bangga produk unggulan daerah maka bupati Mulyadi WR perlu dipertanyakan KTP dan rasa nasionalismenya.. Kalau dia orang Trenggalek, hidup diTrenggalek Seharusnya MulyadiWr  bangga terhadap produk unggulan daerah Trenggalek, bukan malah bangga terhadap produk genting daerah lain. Pendopo yang seharusnya manifestasi kebanggaan daerah seharusnya menunjukkan citra daerah Trenggalek.  imbuhnya.

Sehingga saat ini yang beredar dimasyarakat adalah sebuah pertanyaan apakah memang program tersebut dirancang hanya kepentingan sesaat bagi kelompok yang mengusung bupati tersebut hingga duduk sebagai bupati sehingga yang ada hanya sebuah program yang membuat perut buncit bagi pengusungnya pada waktu dia mencalonkan dulu,? Kalau untuk pertanyaan tersebut kebanyakan mereka hanya bisa pasrah pada gusti Allah. Karena dia semua berpandangan bahwa suaranya pasti tidak akan terdengar dan didengar biarpun berkoar koar sampai mulut berbusa, biar gusti Allah-lah yang meng-adab dan memberi balasan yang setimpal bagi orang orang seperti tersebut diatas, ujar kebanyakan orang secara totalitas kesadaran.

mengatakan bahwa, kalau memang benar adanya, fakta dilapangan seperti itu maka bupati Trenggalek Mulyadi WR perlu dipertanyakan KTP Nya. Seharusnya MulyadiWr bangga terhadap produk unggulan daerah bukan malah bangga terhadap produk genting daerah lain. Pendopo yang seharusnya manifestasi kebanggaan daerah seharusnya menunjukkan citra daerah Trenggalek.  imbuhnya.

Kehidupan pengrajin genteng disukorejo gandusari sekarang memang sangat memprihatinkan. Banyak pengusaha genting  yang gulung tikar. Berbagai macam permasalahan memang harus segera dicarikan jalan keluar. Peran serta pemerintah harus benar benar untuk kepentingan menciptakan kesejahteraan rakyat. ( rudy )

BERSIH DESA ALIYAN DENGAN TRADISI KEBOAN


Banyuwangi, Awdionline.com_ Ratusan Masyarakat Desa Alian dan Msayarakat Desa Lainya telah menyaksikan Kegiatan Bersih Deso yang ada di Desa Alian salah satunya ada Desa Aliyan terdiri dari 7 dusun diantaranya dusun Krajan, Bolot, Timurejo, Cempokosari, Sukodono, Kedawung dan dusun Damrejo itu merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.

Acara pada hari Minggu tanggal 10 Nopember 2013 telah melaksakan Bersih Desa dalam rangka bulan Suro dengan tradisi/ adat Kebo-Keboan tersebut, setiap tahuan sekali di selanggarakan oleh Msayarakat Desa Alian Kecamatan Rogojampi.

Bambang Supinto Hadi Ketua Panitia Penyelenggara yang juga Sekretaris Desa Aliyan menjelaskan : di Desa Aliyan ada tradisi disetiap tahun tepatnya di bulan Suro ada kegiatan Selamatan Bersih Desa yang identik dengan sebutan Keboan dengan latar belakang dibidang pertanian.Karena mayoritas masyarakat desa Aliyan pekerjaannya di bidang pertanian dan buruh tani padi.

Waktu jaman Belanda itu sudah ada kegiatan selamatan Keboan. Dahulu di desa Aliyan itu ada wabah / penyakit yang merusak tanaman padi semacam hama, wereng, tikus dan lain-lain. Sehingga beberapa tahun para petani itu selalu gagal panen dan ada seseorang bernama Mbah Wongso Kenongo yang sangat mumpuni disegala bidang minta petunjuk kepada Allah SWT bagaimana untuk mengatasi masalah yang menimpa warga desa Aliyan.

Untuk itu Mbah Wongso Kenongo memerintahkan kedua anaknya yang bernama : Joko Pekik untuk meditasi minta petunjuk disitu diketahui oleh beberapa masyarakat yang selalu setia mendapinginya dan disitu ada kejadian yang aneh Joko Pekik itu perilakunya seperti perilaku Kerbau. Dia berguling-guling disawah pada sawah yang kenah wabah penyakit.

Itupun diikuti oleh orang-orang yang setia pada Joko Pekik dan akhirnya sedikit demi sedikit ada tanda-tanda perubahan dibidang pertanian antara lain hama dan penyakit itu hilang, makanya oleh sekelompok masyarakat dipercaya bahwa perilaku Joko Pekik itu hasil dari meditasi tersebut dan dilestarikan turun temurun sampai sekarang.

Hadir dalam acara tersebut : Plt Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi beserta rombongan, Forpimka Rogojampi dan undangan lainnya yang telah menyaksikan acara Ritual kebo-keboan yang ada di Desa Alian.paparnya (Din Awdi)

Ritual Tolak Balak Masyarakat Alas Malang Di Meriahkan Kebo-Keboan

Banyuwangi, Awdionline.com_ Ratusan masyarakat Desa Alasmalang Kecamatam Singojuruh Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (10/11/2013) menggelar ritual adat Kebo - keboan.

Dalam ritual tersebut puluhan warga laki - laki dimake up menyerupai kerbau (kebo) lengkap dengan tanduk, dan lonceng dilehernya kemudian mereka diarak keliling kampung sebagai wujud bersih desa.
 
Salah satu tetua ada desa setempat, Suprapto mengatakan upacara adat kebo - keboan merupakan ritual rutin warga yang dilaksanakan setiap hari minggu pertama dibulan muharam atau dalam kalender jawa bulan suro, sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah sekaligus sebagai upacara bersih desa agar seluruh masyarakat desa diberi keselamatan.

"Kebo - keboan merupakan ritual tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah," ungkap Suprapto Minggu (10/11/2013).

Ritual sakral tersebut sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalau yang berawal, Desa Alasmalang diserang wabah penyakit, kemudian mbah Karti, mendapat wangsit agar melaksanakan ritual selamatan desa dengan ritual kebo - keboan yang sampai saat ini masih diletarikan masyarakat.

"Sampai saat ini masyakat desa tidak berani meinggalkannya, jika tidak  dilaksanakan,  tanaman warga akan diserang berbagai penyakit dan beberapa musibah lainnya," Tambah Suprapto.

Kebo atau kerbau sengaja dipilih, karena mayoritas masyarakat desa setempat berprofesi sebai petani, dan kerbau dinilai sangat membantu masyarakat saat bercocok tanam seperti membajak sawah dan lainnya.
Sebelum ritual tersebut dimulai, masyarakat desa terlebih dahulu menanam, berbagai macam palawija dan hasil bumi lainnya, di tengah jalan kampung, dan pada akhir acara puluhan masyarakat yang mejadi, kebo jadi - jadian menggelar prosesi membajak sawah dan menabur benih padi, kemudian masyarakat memperebutkan benih tersebut karena dipercaya bisa menghasilkan panenan yang melimpah.

Dalam prosesi tersebut bayak masyarakat yang harus rela menjadi bulan - bulanan kerbau jadian - jadian, karena jika tertangkap tubuh mereka akan dibenamkan kesawah, dan diseruduk dengan tanduk kebo – keboan ungkapnya.(Tim Awdi)



   

GLADI BERSIH PAJU GANDRUNG SEWU DI ROGOJAMPI

Banyuwangi Awdionline.com- Bertempat di Lapangan Banje Desa Bubuk Kecamatan Rogojampi pada tanggal 11 Nopember 2013 telah dilaksanakan Gladi Bersih Paju Gandrung Sewu. Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi.

Gladi Bersih Paju Gandrung Sewu yang di ikuti oleh pelajar tingkat SD, SMP dan SMA dari perwakilan Kecamatn Rogojampi, Kecamatan Songgon dan Kecamatan Singojuruh dari Eks Pembantu Bupati Rogojampi.

Kegiatan ini yang dipandu langsung pelatih tari dan koreografer Julaidik yang juga pengasuh dan pelatih Tari Sanggar Sayu Wiwit Aliyan Kecamatan Rogojampi menjelaskan khususnya yang dari peserta Rogojampi.

Semua Penari Tari Gandrung Sewu sudah di latih  kurang lebih dua bulan dan setelah gladi ini juga akan dilanjutkan gladi lagi di Taman Blambangan Banyuwangi tanggal 17 Nopemper 2013 dan Paju Gandrung Sewu tersebut akan di gelar di Pantai Boom Banyuwangi.paparnya,(Din Awdi)

Sampel Urine Pebalap Tour de Ijen Dikirim ke Thailand

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Sabtu, 09 November 2013 | 16.42


Banyuwangi, Awdionline,Com - Sampel urine para pebalap peserta International Banyuwangi Tour de Ijen (BTDI) dikirim ke Thailand untuk dites. Pengiriman sampel urine tersebut sebagai bagian dari penegakan aturan anti-doping yang yang disyaratkan oleh Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International/UCI).

"Tim kami sudah berangkat ke Thailand untuk mengirim sampel urine para pebalap peserta Tour de Ijen," ujar Ketua Panitia BTDI, Guntur Priambodo, Kamis (7/11/2013).

Di Thailand, sampel urine tersebut akan dites di National Doping Control Centre di Mahidol University, Bangkok, yang merupakan salah satu tempat yang diakui UCI untuk pengetesan sampel urine guna penegakan aturan anti-doping.

Guntur Priambodo Selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan dan juga Panitia BTDI,  mengatakan, penegakan aturan anti-doping ini penting untuk menjaga sportivitas dalam pelaksanaan BTDI. UCI sebagai organisasi balap sepeda dunia juga melakukan penilaian secara ketat. BTDI sendiri sudah masuk kalender rutin (calendar of event) UCI.

"Kami memenuhi semua persyaratan UCI, termasuk penegakan aturan anti-doping. Pengecekan sampel urine juga terus masuk dalam pengawasan UCI dengan standar yang ketat. Kami ingin menjaga semangat olahraga (spirit of sport) yang ditopang oleh tingginya sportivitas," kata Guntur.

Dengan menegakkan aturan anti-doping ini, Guntur berharap UCI bisa terus meningkatkan poin untuk BTDI. Penegakan aturan anti-doping ini juga sekaligus meningkatkan kredibilitas lomba yang dilandasi pada nilai-nilai bersih alias fair play. Sehingga, ke depan lomba balap sepeda yang telah diselenggarakan sebanyak dua kali ini bisa semakin diminati oleh tim dalam dan luar negeri.

Seperti diketahui, pada ajang Tour de Ijen yang berlangsung sejak Sabtu-Selasa (2-5/11/2013), tim Tabriz Petrochemical Iran berjaya dengan membawa pulang dua gelar juara, yaitu kategori individu dan tim.

Pebalap Tabriz Mirsamad Poorseyedi Golakhoir berhasil merebut "yellow jersey" dalam lomba yang menempuh total jarak sejauh 606,5 kilometer dengan catatan waktu tercepat 16 jam 11 menit 43 detik.

Sedangkan dalam kategori tim, Tabriz Petrochemical mengukuhkan diri sebagai tim terbaik dengan membukukan total waktu 48 jam 47 menit 22 detik. Di ajang BTDI 2013, terdapat 14 tim dalam negeri dan 6 tim dalam negeri.

Sementara untuk raja tanjakan (red jersey) direbut Rahim Emami dari tim RTS Santic Taipei yang memenangi etape terakhir, selanjutnya "green jersey" (raja sprint) dikuasai pebalap Terengganu Cycling Malaysia, Mohammad Shahrul Mat Amin. Paparnya (Heru Awdi).

 
Support : Creating Website | Johny Template | Edited By : Abib Visual
Copyright © 2013. Awdi Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger