Latest Post

Sampah Di Keruk Belakang Pasar Daerah Benculuk Kerja Sama Dengan Pokmas dan DKP Dinas Kebersihan Banyuwangi

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Rabu, 20 November 2013 | 11.41

Banyuwangi, Awdionline.com - Sudah bertahun-Tahun Tumpukan sampah yang ada di Pasar Daerah Benculuk berbau busuk dan menyengat dan juga mengganggu kesehatan yang ada di Pasar Daerah Benculuk salam itu tidak ada pengerukan, tapi setelah kepala Desa yang baru dan Kerjasama dengan Polmas dan juga DKP Banyuwangi, Saat di lakukan Pengerukan, yang ada di Pasar Daerah Benculuk Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi
Sampah yang dinilai sangat meresahkan masyarakat selama kurun Puluhan tahun ini, “Akhirnya Pokmas dan DKP saat ini sudah melakukan Pengerukan Sampah yang menumpuk itu, sudah dapat teratasi berkat kegigihan Pokmas (Kelompok Masyarakat) Taruna Mandiri yang dikukuhkan keanggotaanya oleh Kepala Desa Benculuk Isa Idris.

Heri Setyawan Ketua Pokmas Taruna Mandiri kepada Wartawan Awdionline.com mengatakan, keberadaan sampah yang di belakang Pasar Daerah itu, menurutnya sangat diresahkan oleh masyarakat, berbagai upaya telah dilakukan Pokmas guna mengatasinya, baik melalui koordinasi dengan pihak pasar Daerah setempat maupun melalui proposal ke Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi.

" Berbagai upaya telah kita lakukan guna mengatasi masalah ini, baik melalui koordiansi dengam pihak terkait, maupun melalui proposal yang kami ajukan kepada pemerintah daerah " uangkapnya.

Heri selaku ketua Pokmas juga menambahkan pengerukan sampah dilakukan oleh pokmas, berkat bantuan alat berat dan armada pengangkut sampah dari DKP ( Dinas Kebersihan Dan Pertamanan ) Kabupaten Banyuwangi, dan menurutnya itu bukan dari pihak pasar.

" Pengerukan sampah dilakukan oleh pokmas, bukan dari pihak pasar mas, bahkan pihak Pasar Daerah benculuk enggan memberikan Bantuan kepada pokmas, berkat bantuan alat berat dari DKP, pengerukan tumpukan sampah pasar ini bisa dilakukan " jelasnya.

Sukiman, selaku Kepala Pasar Daerah Benculuk, mengakui jika tidak memberikan bantuan kepada pokmas lantaran sampah tersebut menurutnya 80 %nya adalah kiriman sampah dari masyarakat.

" Memang pihak pasar tidak memberikan Bantuan terhadap pokmas, karena sampah itu kiriman sampah dari masyarakat juga mas, selain itu pihak Pasar Daerah Benculuk tidak ada anggaran untuk memberikan Bantuan kepada pokmas " cetusnya saat dikonfirmasi wartawan.

Saat ditanya terkait kontribusi sampah yang didapatkan dari pedagang di area Pasar Daerah Benculuk, Sukiman mengatakan, nilai kontribusi sampah sangat minim, sebulan berkisar Rp 170 ribu.

"Kontribusi dana sampah sangat minim mas, maka dari itu kami tidak bisa memberikan sumbangsih kepada pokmas " jelasnya.

Saat di Konfirmasi (20/11/2013) Kepala Desa Isa Idris Benculuk kepada Wartawan  Awdionline.com mengatakan, berkat dukungan dana swadaya dari masyarakat, sampah pasar yang seharusnya di atasi oleh pihak pasar itu bisa teratasi.


 Selain, bantuan alat berat dari DKP, pengerukan sampah itu juga didukung oleh Dana Swadaya dari masyarakat " jelasnya.
Patut diacungi dua jempol, kegigihan Pokmas Taruna Mandiri dalam merealisasikan harapan masyarakat yang ada di Desa Benculuk.

Karena Semua ini adanya upaya yang telah dilakukan bersama Pemerintah Desa setempat, keberadaan tumpukan sampah Pasar Daerah Benculuk bisa teratasi, meski pihak pasar enggan berkontribusi dengan permasalahan sampah yang selama ini sangat diresahkan masyarakat Desa Benculuk,” paparnya. (Din Awdi)

Gara-Gara Rem Blong Truk Muatan Berat Nabrak Lereng Gunung Kumiter Terbalik

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Selasa, 19 November 2013 | 13.51

Jember, Awdionline.com- Gara-Gara remblong Truk Gandeng Nomer Polisi. P.9706.UW, Memuat Pupuk Puluhan Ton yang ada di jalan Gunung Kumiter Banyuwangi- jember tersbut, Saat Terbalik, Kaca Depan pecah, menabarak Lereng Gunung Kumiter yang sudah Masuk Wilayah Garaan Kecamatan Sempolan Kabupaten Jember. (18/11/2013.

Akirnya Sopir dan Kerenet truk Gandeng tersebut mengalami Cidra ringan, dan langsung di bawa kerumah sakit terdekat yang ada di Kecamatan Sempolan Kecamatan Jember. “dengan kejadian kecelakaan truk gandeng itu, Kendaraan yang melintas sempat Macet selama satu Jam.

Menurut keterangan di Sekitar Kejadian kecalakaan tersebut,  huseni mengatakan bahwa kemungkinan Truk gendeng yang memuat Pupuk itu, kemungkinan besar gara gara rem blong.akirnya menabarak lereng gunung Kumiter.

Dan huseni  menambahkan bahwa saat terjadi kecelakaan Truk gandeng itu, saat tingkungan tajam, akirnya pupuk tersebut berhamburan dari truk, Memang saat itu langsung di tangani oleh Polisi Sat Lantas kabupaten jember,”paparnya (Din/heru Awdi)

Mohon Rezeki dan Keselamatan, Nelayan Muncar Langsungkan Petik Laut

                           Foto: nelayan naik sampan membuang sesaji di tenhal laut muncar

Banyuwangi Awdionline.com –  Dalam Acara Ritual Petik Laut di pantai Muncar di hadiri Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi (Frompimda) Salah Satunya Wakil Bupati Banyuwangi Yusup Widiyatmoko dan Jajaranya dan Kapolres Banyuwangi AKBP Yusuf dan juga Muspika kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.”Di Samping itu Wakil Bupati dan Kapolres Banyuwangi AKBP menyantuni Anak Anak Yatim Piatu dan juga memberi santuanan puluhan nelayan.(tgl 19/11/2013)

Dalam Acara ritual petik laut di muncar Ribuan Masyarakat Nelayan di Muncar Untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan, dan masyarakat nelayan Muncar melangsungkan ritual Petik Laut di Pantai Muncar, Menurut  ketua panitia penyelenggara, ritual Petik Laut juga dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan yang maha esa,  atas rezeki yang telah didapat oleh para nelayan sepanjang satu tahun terakhir.  Ritual itu diikuti oleh ribuan nelayan yang mengiringi perahu githik yang berisi aneka sesaji untuk dilarung ke laut. Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.


                                   Foto: camat, AKBP Yusuf dan Wakil Bupati banyuwangi

Diceritakan Ridiyanto, ritual Petik Lut diawali dari pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Sesaji tersebut berisi berbagai jenis hasil bumi yang ditata dengan indah dalam perahu kecil yang disebut githik. Pada malam hari sebelum pelaksanaan Petik Laut, di tempat perahu  sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah juga diadakan pengajian atau semaan.

Menjelang siang, sesaji diarak menuju pantai. Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ) Muncar, yang dihadiri jajaran Forum Pimpinan Daerah Banyuwangi dan pejabat setempat.

Sesaji yang tiba tersebut disambut oleh enam penari Gandrung. Setelah dibacakan doa oleh sesepuh nelayan sesaji kemudian diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah. Sebelum diberangkatkan, Wakil Bupati Banyuwangi Yusup Widiyatmoko  diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Hal itu karena Wakil Bupati Yusup sebagai kepala daerah dianggap mewakili rakyatnya untuk memasangkan simbol permohonan berupa pancing emas agar nelayan diberi hasil ikan melimpah.

Setelah sampai di tengah laut, dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Selain itu, nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar. Sesudah itu mereka kembali ke darat.

Sebelumnya, saat upacara pembukaan acara Petik laut Muncar,  Wakil Bupati Banyuwnagi Yusup Widiyatmoko sempat berpesan kepada para nelayan agar tidak lupa menyisihkan sebagian rezeki yang didapat untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin yang ada di lingkungan sekitar mereka. (din/heru Awdi)

Bayi Lahir di Banyuwangi Langsung Dapat Akta Kelahiran

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Senin, 18 November 2013 | 10.49

Banyuwangi Awdionline.com– Selama ini, untuk mengurus akta kelahiran terkadang masih membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan ada yang sampai berbulan-bulan dan bertahun-tahun,  Tetapi tidak di Banyuwangi, Jawa Timur. Hari ini, Sabtu (16/11/2013), Pemkab Banyuwangi meluncurkan program "Lahir Langsung Pulang Bawa Akta", yang berarti setiap bayi yang lahir di Banyuwangi saat itu juga langsung keluar akta kelahirannya.

Peluncuran program inovatif dalam hal pelayanan publik ini dilakukan oleh Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Wamen PAN-RB) Prof Dr Eko Prasojo.

Melalui program tersebut, Pemkab Banyuwangi memberikan kemudahan bagi warganya dalam mengurus akta lahir dan kartu keluarga. Proses pengurusannya hanya butuh waktu sehari. Bayi yang baru lahir langsung memiliki akta lahir. "Program ini pertama di Indonesia. Kami menyebutnya 2 ini 1, karena selain dapet akta, juga bisa langsung diterbitkan Kartu Keluarga," kata Eko saat acara peresmiam program tersebut di Puskesmas Gitik, Banyuwangi.

Menurut Eko, selama ini banyak warga tidak memiliki akta kelahiran anaknya maupun kartu keluarga. Kendalanya, kepengurusan kedua dokumen kependudukan itu selama ini membutuhkan waktu cukup lama.

Di dunia, berdasarkan data Komisi Ekonomi dan Sosial PBB, setidaknya masih ada 220 juta anak balita di seluruh dunia yang tidak punya akta kelahiran. Untuk kawasan Asia Pasifik, hanya 40 persen anak yang punya dokumen kelahiran lengkap.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional versi BPS (2011), di Indonesia ada sekitar 40 persen anak usia 0-4 tahun yang belum memiliki akta kelahiran.
Dengan adanya terobosan yang dilakukan Pemkab Banyuwangi, kata Eko, memberikan jaminan kepada masyarakat untuk dengan mudah mendapatkan akta lahir dan kartu keluarga. "Kami akan mendorong kabupaten dan kota lainnya di Indonesia memberlakukan program seperti ini," ujarnya.
                  
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan program ini adalah implementasi dari reformasi birokrasi. Di mana setiap pemerinah daerah dituntut untuk memberikan layanan publik yang cepat, murah, dan efisien. "Penerbitan akta ini gratis, dan singkat. Bahkan penerbitannya bisa dilakukan dalam waktu tiga jam," tutur Bupati Anas. 

Tempat persalinan yang akan melayani program ini adalah seluruh Puskesmas di Banyuwangi (45 buah), dua rumah sakit pemerintah dan RS swasta yang telah bekerja sama dengan Pemkab Banyuwangi. Terdapat lima rumah sakit swasta di Banyuwangi yang terlibat kerja sama penerbitan akta kelahiran super-kilat adalah RS PKNU Rogojampi, RS Islam Fatimah, RS Islam Banyuwangi, RS Islam Al-Huda Genteng, RS Bhakti Husada, Glenmore.

"Ke depan akan kami teruskan sampai ke bidan-bidan dengan sistem teknologi informasi dalam kerangka Banyuwangi Digital Society. Jadi, begitu lahir di tempat bidan, hari itu juga bisa dapat akta kelahiran," tuturnya.

Syarat yang dibutuhkan untuk kepengurusan akta lahir super-kilat ini antara lain Kartu Tanda Penduduk (KTP) orangtua, Kartu Keluarga (KK) dan nama calon bayi. “Nama sudah harus disiapkan, sehingga saat bayi lahir bisa langsung diproses akta kelahirannya. Nama bayi ini wajib karena akan tercantum di akta kelahiran," kata Anas.

Anas menuturkan, akta kelahiran telah menjadi isu global yang mendapat perhatian banyak pihak. Secara internasional, akta kelahiran sudah diatur dalam Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang disetujui oleh Majelis Umum PBB pada 20 November 1989. Indonesia menandatangani Konvensi tersebut pada 26 Januari 1990, dan meratifikasinya melalui Keppres 36/1990 pada 25 September 1990.

Dalam pasal 7 Konvensi Hak Anak disebutkan, "The child shall be registered immediately after birth and shall have the right from birth to a name, the right to acquire a nationality and as far as possible, the right to know and be cared for by his or her parents." (Anak harus didaftarkan segera sesudah kelahiran dan harus mempunyai hak sejak lahir atas suatu nama, hak untuk memperoleh kewarganegaraan, dan sejauh mungkin hak untuk mengetahui dan dirawat oleh orang tuanya).
Di Indonesia, hal itu diatur di UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Di dalam UUD 1945, posisi anak diatur secara jelas dalam pasal 28 B ayat 2 yang berbunyi, "Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi."

Akta kelahiran adalah dokumen utama yang akan menggaransi tumbuh-kembangnya anak dalam menggapai masa depannya. Anak yang tak punya akta kelahiran tidak mempunyai posisi hukum, dan dalam skema kebijakan nasional tidak diakui hak dasarnya.

"Jika anak tidak terdaftar, konsekuensinya banyak. Tanpa akta kelahiran, hak untuk mendapatkan pendidikan, jaminan layanan kesehatan, akses ekonomi, dan hak-hak lain sulit didapatkan. Ketiadaan data anak juga bisa menjadi celah untuk tindak kejahatan perdagangan anak," ujar Anas.

Dari sisi kebijakan publik, keberadaan akta kelahiran adalah bagian penting dari pengelolaan sistem informasi manajemen, terutama dalam hal pengolahan data kepemerintahan. "Data menjadi basis terpenting program pembangunan. Jika data salah, program juga pasti salah. Nah, akta kelahiran berperan sebagai basis untuk penyusunan kebijakan pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Ini penting agar data pemerintah daerah bisa presisi untuk menghasilkan program yang tepat guna," kata Anas. (Tim  Awdi)

Himpaudi Banyuwangi Menggelar Diklat Berjenjang

Banyuwangi Awdionline.com – Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi Melalui Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Banyuwangi menggelar diklat berjenjang tingkat dasar di Hall Wisata Agro Alam Indah Lestari (AIL) Rogojampi kemarin (11/9). Pelatihan ini dibuka Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Drs Sulihtiyono. Hadir dalam acara itu, Ketua Himpaudi Jawa Timur Dr Siti Fatimah Soenaryo, Ketua PNFI Banyuwangi Drs Suhud, Kasi PAUD Dinas Pendidikan Sunari, dan beberapa undangan lainnya.

Ketua panitia diklat berjenjang tingkat dasar PAUDNI, Murwati mengatakan, peserta diklat berjumlah 160 orang yang berasal dari tenaga pendidik PAUD se-Kabupaten Banyuwangi. Diklat ini dilaksanakan mulai kemarin dan akan berakhir pada 15 September mendatang. Selama diklat itu, seluruh peserta mendapat penjelasan terkait kebijakan pembinaan PAUD, konsep dasar PAUD, hingga kesehatan anak usia dini.

Selain itu, etika dan karakter pendidik PAUD hingga cara bermain anak usia dini. Materi lainnya adalah komunikasi dan pengasuhan terhadap anak usia dini. Ketua Himpaudi Jawa Timur, Dr Siti Fatimah Soenaryo mengatakan, HIMPAUDI Banyuwangi harus bisa menyusul kabupaten lain dalam melaksanakan diklat dasar berjenjang.

Karena sertifikat diklat tersebut sangat berguna bagi pendidik PAUD, terutama yang berlatar pendidikan SLTA untuk dapat di konversikan di PT. Ini berfungsi juga menjadi landasan untuk mendapatkan insentif di masa-masa yang akan datang, sama halnya dengan NUPTK dulu banyak pendidik yang enggan untuk mendaftarkan diri, tetapi sekarang berlomba-lomba untuk mendapatkan NUPTK tersebut karena sangat dibutuhkan oleh pendidik,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Drs Sulihtiyono mengatakan peran pendidikan terutama PAUD sangat berperan dalam mendorong perkembangan pendidikan anak sejak dini. Sebab, memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang.  Paparnya. (Din Awdi)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Edited By : Abib Visual
Copyright © 2013. Awdi Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger